The Widgipedia gallery
requires Adobe Flash
Player 7 or higher.

To view it, click here
to get the latest
Adobe Flash Player.

Selasa, 10 Januari 2012

Masih Perlukah Pendidikan Budi Pekerti Diajarkan di Sekolah?

Salah satu tujuan pembangunan ini adalah mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia.

Berkait dengan hal tersebut maka pendidikan memiliki kedudukan penting dalam upaya pencapaian tujuan tersebut. Pendidikan budi pekerti atau pendidikan nilai memiliki peran penting bagi tercapainya tujuan di atas. Disamping itu terjadinya krisis atau kemorosotan moral pada diri bangsa di era sekarang makin menunjukkan betapa urgennya pendidikan budi pekerti.

Paparan ini menggambarkan konteks pentingnya pendidikan budi pekerti di Indonesia.

Budi pekerti pada kamus bahasa Indonesia merupakan kata majemuk dari kata budi dan pekerti. Budi berarti sadar atau yang menyadarkan atau alat kesadaran. Pekerti berarti kelakuan. Secara terminologi, kata budi ialah yang ada pada manusia yang berhubungan dengan kesadaran, yang didorong oleh pemikiran, rasio yang disebut dengan nama karakter Sedangkan pekerti ialah apa yang terlihat pada manusia, karena didorong oleh perasaan hati, yang disebut behavior. Jadi dari kedua kata tersebut budi pekerti dapat diartikan sebagai perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang bermanifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia. Penerapan budi pekerti tergantung kepada pelaksanaanya. Budi pekerti dapat bersifat positif maupun negatif. Budi pekerti itu sendiri selalu dikaitkan dengan tingkah laku manusia. Budi pekerti didorong oleh kekuatan yang terdapat di dalam hati yaitu rasio. Rasio mempunyai tabiat kecenderungan kepada ingin tahu dan mau menerima yang logis, yang masuk akal dan sebaliknya tidak mau menerima yang analogis, yang tidak masuk akal.

Selain unsur rasio di dalam hati manusia juga terdapat unsur lainnya yaitu unsur rasa Perasaan manusia dibentuk oleh adanya suatu pengalaman, pendidikan, pengetahuan dan suasana lingkungan. Rasa mempunyai kecenderungan kepada keindahan Letak keindahan adalah pada keharmonisan susunan sesuatu, harmonis antara unsur jasmani dengan rohani, harmonis antara cipta, rasa dan karsa, harmonis antara individu dengan masyarakat, harmonis susunan keluarga, harmonis hubungan antara keluarga. Keharmonisan akan menimbulkan rasa nyaman dalam kalbu dan tentram dalam hati.

Perasaan hati itu sering disebut dengan nama “hati kecil” atau dengan nama lain yaitu “suara kata hati”, lebih umum lagi disebut dengan nama hati nurani. Suara hati selalu mendorong untuk berbuat baik yang bersifat keutamaan serta memperingatkan perbuatan yang buruk dan berusaha mencegah perbuatan yang bersifat buruk dan hina. Setiap orang mempunyai suara hati, walaupun suara hati tersebut kadang-kadang berbeda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan keyakinan, perbedaan pengalaman, perbedaan lingkungan, perbedaan pendidikan dan sebagainya. Namun mempunyai kesamaan, yaitu keinginan mencapai kebahagiaan dan keutamaan kebaikan yang tertinggi sebagai tujuan hidup.

Di tengah ramainya membicarakan reformasi dan globalisasi, marilah kita juga ikut prihatin dengan maraknya perkelahian pelajar, masalah narkoba, dan terutama kecenderungan anak-anak didik kita kurang menghormati bapak/ibu guru, maupun kadang-kadang kepada kedua orang tuanya, maka pendidikan budi pekerti di sekolah-sekolah masih kita anggap penting, Oleh karena itu perlu disampaikan melalui integrasi pada semua bidang studi, jika dirasakan perlu maka kiranya lebih tepat dimasukkan dalam satu mata pelajaran tersendiri ( muatan local red )

Inilah tugas berat bagi para pemikir bangsa ini untuk mencari solusi terbaik dalam mengatasi krisis moral para pelajar sekarang. Mencermati gejala bangsa yang sedang dilanda krisis dan mulai terbukanya udara demokrasi, maka reformasi di bidang pendidikan harus melibatkan semua komponen pendukungnya baik siswa, guru, sekolah, maupun manajemen pengelolanya. Oleh sebab itu siswa, guru, sekolah, birokrat, orang tua, seluruh lapisan masyarakat harus bahu membahu bekerja keras untuk meningkatkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan, sehingga menghasilkan SDM yang berpengetahuan, terampil, sehat jasmani dan rohani, kreatif, inovatif, dan berbudi pekerti. Maka itulah lembaga pendidikan menempati posisi sentral.. Kiranya sangat tepat dan ideal bila mulai sekarang dimasukkan mata pelajaran budi pekerti yang bertujuan untuk menciptakan moral pelajar yang lebih baik.

Mengenai pelajaran budi pekerti ini, dulu pernah ada, dan masih membekas dalam diri pelajar yang pernah mengalaminya. Misalnya pelajar diajari bagaimana cara memegang pensil yang baik sehingga tulisannya menjadi rapi, baik, dan dapat terbaca. Kuku-kuku siswa selalu dilihat oleh guru, bila terlalu panjang langsung diberi sangsi, rambutnya yang panjang langsung dipotong. Kerapian setiap hari diperhatikan, dan seterusnya. Semuanya dilakukan secara terus menerus tanpa mengganggu jalannya proses belajar. Selanjutnya, setiap minggu diadakan razia terhadap siswa didalam kelas, tampaknya fungsi kontrol dan pemberian sangsi langsung lebih dikedepankan sehingga anak selalu mengingat bahwa apa yang harus dan seharusnya dilakukan. Di sinilah kunci pelajaran budi pekerti yaitu fungsi kontrol sejak anak usia dini.

Sekarang ini yang perlu kita pikirkan bersama adalah mekanisme kontrol bagaimana yang efektif untuk diterapkan pada saat ini. Terlalu sering kita lihat dan dengarkan, dimana pelajar tawuran, mahasiswa tawuran, pada hal kita tahu dan menyadari bahwa kampus merupakan tempat mencetak para calon pemikir , jelas hal ini menunjukan kepada kita bahwa jati diri pendidikan sudah dalam posisi yang kawatirkan.

Terkait dengan pelajaran budi pekerti ini, sebenarnya telah banyak pelajaran yang diajarkan disekolah yang menitik beratkan pada etika moral dan adab yang santun seperti pendidikan Agama, PPKN, dan BK (bimbingan konseling). Tetapi itu semua telah terbukti tidak mampu membentuk budi pekerti yang baik. Karena titik berat pada pelajaran ini hanya pada nilai saja, bukan pada perilaku para siswa dalam keseharian, Oleh karena itu, apabila pelajaran budi pekerti benar-benar diterapkan di sekolah, maka yang perlu dilakukan adalah:

* Penilaian harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan mempunyai kekuatan mengikat (dijadikan pertimbangan kenaikan kelas dan kelulusan) yang didasarkan pada kondisi obyektif pelajar bukan hasil menjawab pertanyaan.

* Selalu ada fimgsi kontrol yang terus menerus terhadap perilaku siswa.

* Sekolah harus bertindak tegas terhadap setiap pelanggaran yang terkait dengan budi pekerti, dan

* Guru juga harus mampu menjadi suri teladan yang baik kepada siswanya.

Dengan demikian dari deskripsi di atas, pendidikan budi pekerti di sekolah masih sangat penting untuk diterapkan sebagai salah satu terapi dekadensi moral pelajar yang nantinya dapat menghancur-leburkan tawuran, kekerasan, dan sifat anarki guna tercipta generasi atau pelajar beretika moral yang baik dan berbudi pekerti luhur.

Telah banyak dikupas secara mendalam oleh para pakar betapa pentingnya pendidikan karakter suatu bangsa. Selama ini praktik pendidikan kepribadian baik

di lingkup pendidikan formal, informal, maupun non formal masih memprihatinkan.Pro kontra keberadaan pendidikan kepribadian telah banyak menyita waktu. Yang pasti dalam jenjang formal, pendidikan kepribadian telah dititipkan pada berbagai mata pelajaran dengan harapan siswa akan memiliki bekal kepribadian yang baik dalam kehidupannya.

Pendidikan seharusnya menitik beratkan pada ranah kognitif (pengetahuan), psikomotorik (keterampilan), dan afektif (sikap). Ketiga wilayah ini seharusnya dikembangkan secara optimal dan proporsional. Pertanyaan yang wajib kita ajukan adalah, sudahkah secara proporsional pendidikan yang ada pada sekolah sudah melakukan itu ? Di akhir tahun pelajaran dunia pendidikan sibuk menyukseskan kelas akhir untuk menyongsong ujian nasional, sehingga kadang-kadang sekolah lupa dengan norma dan aturan yang penting siswanya lulus dengan jumlah yang memuaskan, tanpa berpikir mutu kelulusan itu sendiri. Sayangnya, upaya yang berdarah-darah tersebut baru mampu mengembangkan ranah pengetahuan belaka. Aspek sikap begitu mudah dilupakan dan dipinggirkan secara tidak sadar.

Bila bangsa ini memiliki komitmen kuat dalam membumikan pendidikan kepribadian, memang sangat perlu ada reposisi dan reaktualisasi dalam penerapan pendidikan karakter bangsa ini. Kiranya tidak cukup pengambil kebijakan hanya mengandalkan pendidikan formal saja dalam melestarikan jatidiri bangsanya. Praktik pendidikan formal telah banyak menyajikan tentang perilaku mulia sebagai bangsa. Persaudaraan, toleransi, santun dalam bicara, berbuat, ketakwaan, dsb.Nilai-nilai mulia yang telah diterima siswa di bangku pendidikan, setelah pulang ke rumah dan masyarakat begitu mudah dilupakan.Kenyataannya, sajian perilaku masyarakat dan keluarga justru sangat mendominasi jiwa anak dalam perkembangannya. Kiranya itulah harapan generasi tua terhadap anak didik, agar kedepan bangsa ini tidak terpuruk menjadi bangsa yang tidak punya jati diri, semoga dengan tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, Amiiiinn

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/11/masih-perlukah-pendidikan-budi-pekerti-di-sekolah/

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP