The Widgipedia gallery
requires Adobe Flash
Player 7 or higher.

To view it, click here
to get the latest
Adobe Flash Player.
Tampilkan postingan dengan label Hakikat Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hakikat Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Agustus 2012

Hakikat Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme, pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.

Sehubungan dengan hal di atas, Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.

Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.

Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.

Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran, yaitu :
(1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki,
(2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti,
(3) strategi siswa lebih bernilai, dan
(4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.

Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran, sebagai berikut:
(1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri,
(2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif,
(3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru,
(4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa,
(5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan
(6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.

Sumber : http://akhmadsudrajat.wordpress.com/

baca selanjutnya...

Jumat, 22 Juni 2012

Hakekat Pembelajaran dalam Matematika

Hakekat pembelajaran dalam matematika dilandasi oleh proses pembelajaran yang bersifat :
a. Tidak memaksa siswa untuk dapat memahami suatu pokok materi tertentu, dan
b. Tidak menjejali teori-teori atau konsep tertentu kedalam otak/pikiran anak.

Pembelajaran matematika harus memiliki sifat pembiasaan diri siswa untuk berfikir logis, rasional dan sistematis untuk mencari, menyelidiki, memecahkan masalah dan menemukan ilmu pengetahuan. Pembelajaran harus Memberikan Keyakinan terhadap siswa, bukan pembelajaran yang memberikan ilmu pengetahuan secara verbalisme.

Dengan demikian siswa diajak untuk dapat :
a. Aktif secara logis (tidak keluar dari kaidah-kaidah matematika).
b. Pembelajaran penuh rasional (pembelajaran yang mengajak siswa menggunakan alasan-alasan yang sesuai dengan kaidah).
c. Pembelajaran yang sistematis (pembelajaran memenuhi algoritma/ keteraturan yang jelas).

Pembelajaran matematika perlu dikemas dalam pembelajaran yang melibatkan aktifitas siswa dengan didasarkan pada matematika yang memiliki sifat :
a. Berpola pikir deduktif dan konsisten.
b. Memiliki objek dasar yang abstrak.

Dengan demikian pembelajaran matematika perlu dihantarkan mulai dari berpikir kongkrit, bukan menjelaskan rumus-rumus secara abstrak. Pembelajaran matematika perlu memunculkan aktivitas belajar melalui penyelidikan (Investigasi), pemecahan masalah (Problem solving) dan penemuan (Reinventation).

Adapun kemampuan yang mesti muncul dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan penalaran (Reasoning), Kemampuan untuk menkomunikasikan gagasan-gagasan dalam bentuk simbol-silbol atau model dalam matematika (Comunication), kemampuan untuk mengaitkan setiap gagasan atau konsep-konsep dengan konsep atau mata pelajaran lain (Conection), kemampuan pemecahan masalah (Problem Solving) dan kemampuan merepleksikan setiap gagasan yang dimiliki (Reflectation).

Penalaran (Reasoning) merupakan kemampuan fundamental yang sangat dibutuhkan siswa pada setiap jenjang dan tingkatan pembelajaran matematika. Pada dasarnya, penalaran itu dalam bentuk “jika A maka B”, meskipun tidak selamanya dinyatakan dalam bentuk teoritis seperti itu oleh sebagian besar siswa.

Selama mempelajari Matematika di kelas, aplikasi penalaran sering ditemukan meskipun tidak secara formal disebut sebagai belajar bernalar. Sejalan dengan contoh-contoh yang telah dikemukakan di atas, maka istilah penalaran (jalan pikiran atau Reasoning) merupakan proses berpikir yang berusaha menghubung-hubungkan fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang diketahui menuju kepada suatu kesimpulan.

Aplikasi Penalaran telah digunakan para siswa selama proses pembelajaran matematika berlangsung dikelas. Bayangkan sekarang jika para siswa tidak belajar matematika, apa yang akan terjadi dengan keterampilan berpikir mereka? Pola berpikir yang dikembangkan matematika seperti dijelaskan di atas memang membutuhkan dan melibatkan pemikiran kritis, sistematis, logis, dan kreatif. sehingga akan cepatkah mereka menarik kesimpulan dari beberapa fakta atau data yang mereka dapatkan ataupun mereka ketahui?

Kita mengenal ada dua macam penalaran yaitu :
a. Induksi (penalaran induktif) dan
b. Deduksi (penalaran deduktif)

Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya.

Sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Namun demikian dalam pembelajaran konsep sering diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi. Proses induktif-deduktif dapat digunakan untuk mempelajari konsep matematika.

Kita, mulai dengan beberapa contoh atau fakta yang teramati. Buatlah daftar sifat yang muncul (sebagai gejala), kemudian pikirkan hasil baru yang diharapkan. Kemudian hasil ini kita buktikan secara deduktif. Dengan demikian, cara belajar secara induktif dan deduktif digunakan dan sama-sama berperan penting dalam matematika.
Dari cara kerja matematika tersebut diharapkan akan terbetuk sikap kritis, kreatif, jujur, dan komunikasi pada siswa.

Depdiknas menyatakan “Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif”. Namun demikian, dalam pembelajaran, pemahaman konsep sering diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi”. Sejalan dengan itu. George Polya menyatakan pentingnya penalaran (induktif) dalam pengembangan matematika.

Jika pada masa lalu, siswa memulai belajar matematika secara deduktif aksiomatis, hal ini sesungguhnya telah mengingkari proses bertumbuh dan berkembangnya matematika. Mengikut pada yang telah dilakukan pada matematikawan, matematika yang telah dipelajari para siswa disekolah sudah seharusnya mengikuti proses didapatkannya matematika tersebut. Karena itu, pada masa kini, dengan munculnya teori-teori belajar seperti belajar bermakna dari Ausubel, teori belajar dari Piaget serta Vigotsky (kontruktivisme sosial), para siswa dituntun ataupun difasilitasi untuk belajar sehingga dapat menemukan kembali (reinventation) atau mengkontruksi kembali (recontructation) pengetahuannya yang dikenal dengan kontekstual learning, matematika humanistik, ataupun matematika realistik.

Sumber : http://yusupbudiman.blogspot.com/

baca selanjutnya...

Senin, 18 Juni 2012

Hakikat pembelajaran kontekstual (Contekstual Teaching and Learning)

Pembelajaran dan pengajaran kontekstual (Contekstual Teaching and Learning) adalah konsep pembelajaran yang intinya membantu guru untuk mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan kehidupan nyata siswa dan mendorong siswa mengaitkan pengetahuan yang dipelajari dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Depdiknas, 2003:5).

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang memungkinkan siswa menguatkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan dan ketrampilan mereka dalam berbagai macam tatanan di sekolah serta diluar sekolah agar dapat memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan ke permasalahan lain. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk siswa belajar dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru pada siswa. Pemaduan materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa di dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang kuat dan mendalam sehingga siswa kaya tentang pemahaman masalah dan cara menyelesaikanya.

Dalam hal ini siswa perlu mengerti makna belajar, apa manfaatnya bagi kehidupan dan bagaimana cara mencapainya. Mereka harus sadar bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya sehingga mereka dapat menempatkan diri untuk membekali hidupnya nanti. Mereka mempelajari sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya mencapainya. Dalam upaya ini mereka memerlukan guru sebagai pengaruh dan pembimbing.

Menurut Lie (dalam Depdiknas, 2002:1-2) transfer adalah kemampuan untuk berfikir dan berargumentasi tentang situasi baru melalui pengunaan pengetahuan awal, ia dapat berkonotasi positif dalam pemecahan masalah, melalui pengunaan pengetahuan awal yang dimilikinya. Pendekatan kontekstual merupakan strategi pembelajaran yang mendekatkan pengetahuan yang diperoleh siswa dengan pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kelas kontekstual tugas guru adalah membantu siswa untuk mencapai tujuan. Tugas guru lebih berurusan dengan strategi dari pada membari informasi, mengelola kelas, sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas. Pengetahuan dan ketrampilan dapat di temukan oleh siswa bukan dari kata guru. Pendekatan kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran, seperti strategi pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran barjalan lebih produktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada.

Kunci dasar pembelajaran kontekstual yng mengacu pada:
a) Pembelajaran bermakna
Dalam hal ini pemahaman relavan dan penilaian pribadi sangat terkait dengan kepentingan siswa dalam mempelajari isi materi pelajaran. Pembelajaran dirasa sangat terkait dengan kehidupan nyata siswa, mengerti manfaat isi pembelajaran, jika mereka marasakan kepentingan untuk belajar demi kehidupan dimasa yang akan datang.
b) Penerapan pengetahuan
Jika siswa telah mengalami apa yang dipelajari maka siswa akan dapat menerapkannya dalam tatanan kehidupan.
c) Berpikir tingkat tinggi
Siswa diminta untuk berfikir kritis dalam pengumpulan data, pemahaman suatu isu dan pemecahan suatu masalah.
d) Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan pada standar
Isi pembelajaran dikaitkan dengan standar local, nasional, dan pembelajaran IPTEK serta dunia kerja.
e) Responsif terhadap budaya
Guru harus memahami dan menghormati nilai, kepercayaan siswa sesama rekan guru dan masyarakat tempat ia mendidik.
f) Penilaian authentic
Berbagai macam strategi penilaian digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa yang sesungguhnya. Strategi tersebut meliputi: penilian atas proyek atau kegiatan siswa, PR, kuis, presentasi atau penampilan siswa dan hasil tes tertulis serta memberikan kesempatan pada siswa untuk ikut aktif berperan serta dalam menilai pembelajaran mereka sendiri.

Pendekatan kontekstual mempunyai tujuh komponen yang terintegrasi dalam suatu rencana pembelajaran.

Tujuh komponen tersebut
a. Konstruktifisme
Teori belajar tentang konstruktifisme menyatakan bahwa siswa harus membangun pengetahuan di dalam benak mereka sendiri. Setiap pengetahuan dapat dikuasai dengan baik, jika siswa secara aktif mengkontruksi pengetahuan didalam pikiranya. Konstruktifisme merupakan landasan berpikir atau filosofi pendekatan kontekstual yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks terbatas dan tidak secara tibatiba.
Pengetahuan bukan seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil atau diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Oleh karena itu pengetahuan menjadi proses mengkontruksi bukan menerima pengetahuan (Depdiknas, 2003:10).

b. Menemukan (inquiri)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan ketrampilan siswa diperoleh bukan dari hasil mengingat separangkat fakta tapi hasil dari menemukan sendiri. Siklus inquiri:merumuskan masalah, observasi, bertanya, mengajukan dugaan (hipotesis), pengumpulan data dan menyimpulkan (Depdiknas, 2003:13).

c. Bertanya (Questioning)
Adalah strategi pembentukan pendekatan kontekstual. Bagi siswa bertanya merupakan kegiatan penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui (Depdiknas, 2003:16).

d. Pemodelan (modeling)
Pemodelan adalah kegiatan pemberian model dengan tujuan untuk membahasakan gagasan yang kita pikirkan, mendemonstrasikan bagaimana kita menginginkan para siswa untuk belajar atau melakukan sesuatu yang kita inginkan (Depdiknas, 2003:15).

e. Masyarakat belajar
Adalah kegiatan pembelajaran yang memfokuskan aktivitas berbicara dan berbagai pengalaman dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dengan “sharing” antar teman sekelompok dan antara yang tahu dengan yang tidak tahu (Depdiknas, 2003:18).

f. Refleksi
Adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan masa lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktifitas atau pengetahuan yang baru diterima.
Pengetahuan yang baru diperoleh oleh siswa di kelas melalui konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Guru membantu siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru (Depdiknas, 2003:18).

g. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Adalah proses pengumpulan berbagai data yang dapat memberi gambaran perkembangan belajar siswa. Penilaian dilakukan bersama secara terintegrasi dari kegiatan pembelajaran. Data yang dikumpulkaan harus dari kegiatan yang nyata yang dikerjakan siswa pada proses pembelajaran. Penilaian authentic didasarkan pada pengetahuan dan ketrmpilan yang diperoleh siswa.

Beberapa karakteristik penilaian authentic antara lain:
1) Dilaksanakan selama dan sesudah pembelajaran
2) Dapat digunakan untuk formatif dan sumatif
3) Yang diukur adalah ketrampilan dan penampilannya bukan menginggat fakta
4) Berkesinambungan
5) Terintegrasi
6) Dapat digunakan sebagai feed back

Sumber :
Depdiknas. 2002. Manajemen Peningkatan Berbasis Sekolah Buku Sekolah Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual
Depdiknas, 2003.Pendekatan kontekstual (CTL). Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.
http://stkipselong.blogspot.com/

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP