The Widgipedia gallery
requires Adobe Flash
Player 7 or higher.

To view it, click here
to get the latest
Adobe Flash Player.
Tampilkan postingan dengan label Konsep Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konsep Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juni 2012

SPICES : Konsep Pembelajaran Mutakhir dan Inovatif

SPICES dapat dipandang sebagai sebuah konsep pembelajaran mutakhir dan inovatif. Konsep pembelajaran yang digagas oleh Harden, dkk (1984) ini telah banyak dipraktikkan dan dikembangkan dalam pendidikan medis.
SPICES merupakan akronim dari
(1) Student-centered,
(2) Problem-based;
(3) Integrated;
(4) Community-based(Consummer-based);
(5) Elective; dan
(6) Systematic.

Akronim ini sekaligus menggambarkan komponen-komponen utama dari konsep pembelajaran ini. Berikut ini disajikan penjelasan singkat dari keenam akronim tersebut.

1. Student-centered.
Student centered berarti siswa secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari, aktif dalam pengelolaan pengetahuan, belajar menentukan apa yang ingin mereka ketahui, mampu mencari pengetahuan sendiri (mandiri) dan belajar berkesinambungan, memanfaatkan banyak media, penekanan pada pencapaian kompetensi bukan pada tuntasnya materi. Guru berfungsi sebagai fasilitator dan pembimbing dan pendamping dalam mendapatkan pengetahuan dan keterampilan. Guru mempersiapkan tujuan pembelajaran yang harus dicapai, sumber belajar yang akan digunakan, serta materi dan evaluasi yang akan dipakai sebagai penuntun bagi siswa untuk mengembangkan kompetensinya secara mandiri.

2. Problem-based.
Problem based berarti siswa diberikan trigger masalah atau ilustrasi kasus yang akan digunakan untuk mencari, menggali dan mengumpulkan informasi dan ilmu. Dengan cara ini siswa dirangsang untuk mengembangkan nalar dan daya analisanya, berpikir kritis dan mampu menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Salah satu metode pembelajaran yang bisa digunakan untuk memenuhi prinsip pembelajaran ini adalah metode Problem Based Learning.

3. Integrated.
Integrated berarti perencanaan dan kurikulum lajaran didesain secara terintegrasi, baik secara horisontal maupun vertikal. Dalam hal ini, sswa tidak diajak berpikir secara terkotak-kotak dalam masing-masing disiplin ilmu, tetapi mereka dapat menghubungkan dan mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya secara utuh (lintas disiplin).

4. Community-based (Consummer-based).
Community based berarti pembelajaran harus berorientasi pada kebutuhan masyarakat atau pada kepentingan konsumen. Proses pembelajaran siswa tidak hanya dibatasi oleh ruang kelas dengan bahan tekstual tetapi mereka mempelajari berbagai aspek kehidupan masyarakat yang ada di lingkungan nyata mereka. Melalui berbasis komunitas ini, secara langsung siswa diajak untuk berlatih dan belajar mengambil peran secara positif dalam lingkungan sosialnya.

5. Elective.
Selain menyediakan mata pelajaran yang telah terstruktur dalam kurikulum, sekolah seyogyanya menyediakan program-program pilihan yang dapat diambil siswa, disesuaikan dengan minat, tujuan, bakat, dan keunikan karakteristik mereka masing-masing.

6. Systematic.
Pembelajaran dikembangkan dengan tujuan, materi dan tahapan-tahapan yang jelas, logis dan tertib, sehingga pada gilirannya para siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dan mencapai kompetensi secara utuh.

Dilhat dari komponen-komponen yang terkandung dalam SPICES, konsep pembelajaran ini tampak menawarkan berbagai keunggulan kepada kita, diantaranya:
(1) menjadikan siswa lebih termotivasi dan aktif dalam proses belajarnya
(2) pengembangan keterampilan memecahkan masalah secara komprehensif;
(3) pengembangan kemampuan berfikir analistis secara lebih tajam dan luas,
(4) melatih keterampilan sosial yang benar-benar aplikabel dalam lingkungan sosialnya;
(5) memberikan kesempatan belajar kepada siswa yang sesuai dengan bakat, minat dan keunikan karakteristik lainnya; dan
(6) menjadikan proses pembelajaran lebih tertib dan efektif.

==================
Refleksi:

Melihat berbagai keunggulan yang ada, konsep pembelajaran ini sangat memungkinkan untuk diadopsi dan diterapkan pula dalam bidang pendidikan lainnya.

Dalam konteks pendidikan nasional, khususnya dalam konteks KTSP , konsep pembelajaran ini tampaknya sejalan dan dapat disetarakan (meski tidak sepenuhnya identik) dengan konsep PAIKEM, yang saat ini sedang gencar disosialisasikan dan dilaksanakan di sekolah-sekolah kita.

Selamat ber-SPICES dan semoga pendidikan kita dapat menjadi lebih baik…

Sumber : http://akhmadsudrajat.wordpress.com/

baca selanjutnya...

Jumat, 15 Juni 2012

Konsep Andragogi Dalam Belajar

Andaragogi sebagai konsep dalam belajar mahasiswa sebenarnya sudah lama dikenal oleh masyarakat, terutama di kalangan perguruan tinggi. Andragogi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “aner” yang berarti orang dewasa, dan “agogos” yang berarti memimpin.

Publikasi Malcolm Knowles, lewat bukunya The Adult Leaner adalah model andragogi sebagai teori belajar yang tepat untuk orang dewasa.

Empat konsepsi pokok andragogi yang tertuang dalam buku tersebut antara lain :

1. Perubahan dalam konsep diri (self concept), yaitu seseorang tumbuh dan matang konsep dirinya bergerak dari ketergantungan total menuju ke pengarahan diri alias mandiri.
2. Peranan pengalaman, individu tumbuh matang dan mengumpulkan banyak pengalaman, dalam hal ini menyebabkan dirinya menjadi sumber belajar yang kaya dan pada waktu yang sama memberikan dasar yang luas untuk belajar sesuatu yang baru.
3. Kesiapan belajar, tiap individu menjadi matang maka belajar kurang ditentukan oleh paksaan akademik dan perkembangan biologiknya, tetapi lebih ditentukan oleh tuntutan tugas perkembangan untuk peranan sosialnya.
4. Orientasi belajar, orang dewasa berkecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan problem-problem kehidupan (problem centered orientation).

Langkah-langkah agar menjadi mahasiswa yang berkualitas dapat dilakukan dengan mengetahui informasi lebih awal, adanya kesadaran waktu, pergaulan dan kegiatan (sosialisasi) dan pendewasaan berpikir. Oleh karena itulah setiap kampus perguruan tinggi punya peran masing-masing dalam membentuk mahasiswanya baik melalui kegiatan, pergaulan maupun pembelajaran-pembelajaran yang tidak diperoleh di dalam kelas. Lebih bersifat ke arah pengembangan diri daripada pengembangan akademis.

Sebagai mahasiswa yang diharapkan mampu menjadi generasi penerus pemimpin bangsa, maka dalam setiap aktivitas akademik maupun non akademik tetap mengutamakan rasa tanggung jawab baik belajar dan kreativitasnya.

Ciri-ciri belajar :
- mudah menangkap dan mamahami pelajaran
– mudah mengingat dan mengingatkan
– memiliki perbendaharaan kata yang bervariasi
– penalaran dan pola pikir yang tajam
– daya konsentrasi yang baik
– berpengalaman luas
– senang membaca
– mampu mengungkapkan pikiran secara lisan atau tertulis
– mampu mengamati dengan jelas terhadap setiap perubahan
– rasa ingin tahu yang tinggi
– mampu mengidentifikasi masalah, merumuskan hipotesis, menguji gagasan, mencapai kesimpulan

Ciri-ciri bertanggung jawab :
- tekun menghadapi tugas dengan tuntas
– ulet, pantang menyerah dan putus asa
– mampu berprestasi mandiri
– selalu ingin mendalami pengetahuan
– berusaha berprestasi lebih baik
– senang dan rajin belajar
– menghadapi masalah dengan kedewasaan
– cepat bosan dengan tugas rutin
– mampu mempertahankan pendapat
– menunda kepuasan sesaat untuk mencapai tujuan lebih baik di kemudian hari

Ciri-ciri kreatif :
- memiliki rasa ingin tahu yang dalam
– sering mengajukan pertanyaan yang berbobot
– banyak memberi gagasan positif
– mampu berpendapat secara spontan
– menonjol dalam satu bidang studi
– sulit dipengaruhi oleh pendapat orang lain
– mempunyai rasa humor
– mempunyai daya imajinasi
– mempunyai ide-ide cemerlang dan bermanfaat bagi orang banyak
– mampu mengajukan pikiran, gagasan, dan pendapat yang berbeda dengan orang lain

Untuk menjadi mahasiswa yang sukses secara akademis ada beberapa jurus yang dapat dipergunakan dalam kaitannya dengan konsep andragogi seperti yang telah dipaparkan di atas.

Jurus-jurus tersebut diantaranya adalah :
1. Keteraturan, kiatnya adalah dengan membuat catatan ringkas, rapi dan jelas agar belajar menjadi mudah. Berpikir dan bekerja teratur sehingga dapat mengerti dan meguasai ilmu yang didapat.
2. Disiplin belajar, dalam ini perlu ditanamkan niat yang kuat, serta keteguhan hati dan tekad untuk membiasakan diri dalam belajar sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Membiasakan disiplin bisa menjadi proses pembentukan watak dan pribadi yag baik.
3. Konsentrasi dan manajeman waktu yang baik, yaitu memusatkan pikiran tentang pokok suatu masalah yang dihadapi, termasuk ketika menghadapi ujian maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas. Selain itu konsen pula dalam mengembangkan minat, memperluas cakrawala serta sosialisasi dalam berbagai macam aktivitas dengan mengelola waktu yang tersedia.
4. Memanfaatkan perpustakaan sebagai pendukung dalam belajar, seperti kita ketahui bersama bahwa perpustakaan adalah pusat informasi dan sumber ilmu pengetahuan yang tidak dapat dikesampingkan keberadaannya terutama dalam dunia pendidikan. Ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa perpustakaan adalah jantungnya pendidikan, dan perpustakaan dapat dijadikan sebagai tolak ukur kemajuan peradaban suatu bangsa.

Tak hanya mahasiswa di lingkup perguruan tinggi saja yang dapat menerapkan konsep andragogi dalam belajar, namun para pelajar dan masyarakat pada umumnya pun dapat menerapkan konsep tersebut sebagai bentuk kemandirian.

Sumber : http://halamanputih.wordpress.com/

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP